NEWSLETTER

Kesaksian Korban Sampit yang Selamat dari Tragedi

Sawal Walker, Kesaksian Korban Sampit yang Selamat dari Tragedi – Tahukah anda kesaksian korban Sampit yang selamat?, Jika anda belum mengetahui nya anda tepat sekali mengunjungi artikel ini. Karena pada kesempatan kali ini, kami akan mengulas tentang kesaksian korban Sampit yang selamat, tragedi sampit suku dayak vs madura. Oleh karena itu, marilah simak penjelasan mengenai kesaksian korban Sampit yang selamat secara lengkap yang ada dibawah berikut ini.

Kesaksian Korban Sampit yang Selamat

Kepulan asap yang membumbung kala itu salah seorang anak yang berasal dari jawa tengah mengadakan kegiatan kerja bakti. Kala itu didatangi asal asap tadi. Belum sampai lokasi sudah ada yang menghentikan dan berkat ada sebuah konflik yang terjadi antara suku Madura dan Suku dayak dan dilarang untuk melintas jika tidak ingin terbunuh.

Yang mengerikan adalah sekali saja menggunakan logat orang Madura sudah ada yang mengincar dari semak – semak dan menombaki dengan tombaknya. Pada saat itu kerjadiannya sangat mencekam kegiatan perekonomian pun terhenti, sekolah diliburkan, dan listrik pun ssering padam. Orang – orang pun pada saat itu memasuki masa dimana mereka merasakan kejadian yang sangat tak terlupakan.

Baca juga Jumlah Korban Perang Sampit, Konflik Suku Dayak vs Madura

Menurut kesaksian orang yang ada di Kalimantan Tengah saa konflik ini terjadi ada beberapa hal yang mereka lakukan. Bagi orang Madura mereka akan mengungsi ke dekat rumah pegawai guna menyelamatkan diri mereka. Para pengungsi ini juga mengalami kekurang makanan dan minuman. Sampai – sampai mereka harus menjual apa yang mereka miliki dengan harga berapapun guna untuk membeli makanan.

Dengan mudah orang dari suku lain dapat membeli barang – barang yang dijual Suku Madura ini dengan harga yang murah. Tanpa adanya paksaan mereka akan menjual barang mereka dengan harga jauh dari harga standar. Ini sebenarnya merupakan keuntungan bagi suku lain yang berada di wilayah Kalimantan Tengah.

Pada saat itu orang – orang menjual makanan dengan harga yang cukup mahal. Orang – orang yang kekurangan makanan terpaksa membeli makanan tersebut. Pada saat itu orang Madura pendalaman yang awalnya ada di pedalaman mulai datang ke Sampit. Orang – orang pendalaman ini memiliki kekuatan yang tak semua orang miliki. Ada yang memiliki kemampuan kebal terhadap senjata apapun. Ada beberapa orang yang bahkan bisa terbang.

Menurut para saksi orang Dayak bisa mengenali orang Madura dari bau badannya. Hingga dengan mudah mengetahui bahwa ia merupakan orang Madura atau bukan. Warga yang berasal dari Suku Dayak , Suku Jawa dan suku lain diminta untuk memasang tali warna merah di rumah mereka yang menandakan mereka bukanlah orang Madura. Rumah – rumah pada saat itu ditulisi tulisan yang intinya menjelaskan bahwa mereka bukanlah bagian dari Suku Madura.

Mandau yang merupakan senjata tradisional rakyat Dayak digunakan untuk memenggal kepala orang – orang Madura. Pada saat itu terjadi kegiatan yang zaman dulu sering dilakukan ,tetapi sebenarnya sudah punah. Pada jaman dulu orang Madura yang berumur mendekatti balik harus memenggal kepala musuhnya. Ini merupakan kegiatan yang biasa saja pada saat itu.

Baca juga Sejarah Tragedi Sampit, Suku Dayak vs Madura Yang Mengerikan

Korban atau yang bisa dibilang musuh dipenggal kepalanya saat memenggal pun orang suku dayak seperti bukan memengal kepala manusai lagi. Melainkan mereka berpikiran seolah – olah melihat orang dengan kepala binatang. Yakni sapi saat melihat hal itu mereka akan merasa memenggal kepala sapi. Sehingga tidak ada rasa bersalah dalam diri mereka.

Yang unik adalah orang Dayak kemudian memakan hati dari korban. Menurut nenek moyang mereka hal itu dilakukan guna menghindari mayat atau nyawa dari mayat tersebut menghantui pembunuh, sehingga pada zaman itu kegiatan membunuh sebenarnya merupakan kegiatan umum dan biasa terjadi. Namun, berangsur – ansur kegiatan ini mulai ditinggalkan dan kembali terulang saat terjadi konflik ini.

Yang menjadikan mereka para korban yang selamat trauma adalah melihat betapa ngerinya kejadian itu. Seakan menjadi kegiatan harian melihat rumah terbakar. Polisi yang berjaga pun berjumlah banyak. Mereka para Suku Dayak memang tidak pandang bulu saat membunuh. Mereka akan dengan mudah mengenali dan membunuh siapa saja yang merupakan keturunan orang Madura.

Anehnya adalah pada saat itu banyak rumah yang bakar. Jika salah satu rumah orang Madura dibakar maka walaupun berdekatan rumah dari suku lain yang bukan Suku Madura akan tidak ikut terbakar entah kekuatan apa yang menghalangi hal tersebut, tetapi itu benar – benar terjadi dan merupakan kegiatan yang biasa.

Pada saat itu menurut para saksi mereka hanya tidur beberapa jam saja. Kegiatan mereka rata – rata diisi oleh kegiatan bermanfaat untuk menyelamatkannyawa. Yakni mereka berjaga malam sambil memakan hasil ladang Suku Madura yang memang saat itu orang Madura tidak akan mungkin bisa memakannya apalagi mengambil dan mengolahnya.

Mereka hanya memfokuskan kegiatan mereka hanya untuk menyelamatkan nyawa mereka dari Suku Dayak yang mengincar mereka. Pada saat tragedis itu berakhir orang – orang yang berasal dari Suku Madura kembali ke halaman mereka yakni di Madura. Berangsur – angsur orang – orang dari Suku Dayak yang berasal dari pendalaman pun kembali ke daerah mereka. Untuk mengenang kejadian ini pun pemerintah membuat sebuah monument perdamaian. Diharapkan dengan pembangunan monument ini masyarakat bisa belajar dari pengalaman terdahulu.

Baca juga Dampak Konflik Sampit, Perang Antar Suku Dayak dan Madura

Demikian yang dapat Sawal Walker bagikan, tentang kesaksian korban Sampit yang selamat dari tragedi. Sekian dan terima kasih telah mengunjungi sawalwalker.com, semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel perang Sampit berikutnya.

You May Also Like

Sawal Walker

About the Author: Sawal Walker

Ketika Allah memberikanmu nikmat secara finansial, jangan naikkan standar hidupmu, melainkan tingkatkan standarmu dalam berbagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *