NEWSLETTER

Penyelesaian Konflik Sampit, Antar Suku Dayak dan Madura

Sawal Walker, Penyelesaian Konflik Sampit, Antar Suku Dayak dan Madura – Tahukah anda cara penyelesaian konflik Sampit?, Jika anda belum mengetahui nya anda tepat sekali mengunjungi artikel ini. Karena pada kesempatan kali ini, kami akan mengulas tentang penyelesaian konflik Sampit, antar suku Dayak dan Madura. Oleh karena itu, marilah simak penjelasan mengenai penyelesaian konflik Sampit secara lengkap yang ada dibawah berikut ini.

Lihat di sana pria itu dengan wajah yang terlihat dingin, dengan lambing semangat berupa tali berwarna merah yang dikat di kepala. Ia berdiri di anatar kerumunan dengan kedua tangan yangkuat dan membentang. Dua tangannya sibuk membawa sesuatu salah satu tangan yakni sebelah kiri membawa sebuah kepala bocah yang berumur sekitar 5 tahun yang sudah terpenggal dari tubuh.

Penyelesaian Konflik Sampit

Tangannya yang lain memegang senjanta yang cukup terkenal yakni Mandau. Ia mengangkat tangan dengan senjata itu melebihi tinggi kepalanya. Orang – orang yang melihat itu hanya bisa diam. Semuanya menatap tanpa adanya ekspresi. Namun, yang aneh adalah tidak ada orang yang tampak ngeri melihat kejadian itu. Merke juga melihatnya tanpa ada beban di dirinya.

Ternyata penyebabnya cukup membuat kita tercengang bukan hanya anak yang kepala dipegang oleh pria tadi saja yang terbuhun. Ratusan nyawa melayang dengan cara yang tak biasa. Sejak adanya pertikaian atau bisa dibilang konflik yang terjadi antara dua suku, yakni Madura dan Dayak ini.

Baca juga Jumlah Korban Perang Sampit, Konflik Suku Dayak vs Madura

Hampir dengan mudah kita bisa melihat ratusan mayat yang bergelimpangan tanpa kepala. Ada yang membuat kita bergeleng – geleng kepala karena pada saat itu jikita berjalan saja akan tersandung mayat yang ada di jalan.

Pada saat itu korban yang terbunuh berserakan seperi daun yang berjatuhan di setiap sudut jalan yang ada di Kota tersebut. Kebanyakan ada di kawasan rumah salah satu Suku yakni Suku Madura. Kejadian ini terjadi sebuah kota bernama sampit. Kota yang terletak di Kalimantan Tengah.

Komnas HAM mencatat setidaknya terdapat korban jiwa yang mencapai 400 jiwa. Data dari kepolisian menunjukan sekitar 319 rumah terbakar dan 319 lebih rumah terbakar , da nada sekitar 1\319 rumah dirusak. Aksi ini pun menuai banyak pertanyaan pasalanya ada beberapa penyebab yang muncul yang menyebabkan konflik ini terjadi mulai dari ada beberapa orang Madura yang melakukan pembunuhan terhadap salah satu orang Dayak yakni seorang ibu – ibu yang pada saat itu tengah mngandung.

Korban dalam hal ini sayat pada bagian perut kemudian bayi yang ada di dalamnay di keluarkan dari dalam perut kemudian dibakar sampai mati. Ada juga yang menyatakn hal ini dipicu dari sebuah pembunuhan yang dilakuakn beberpa dari suku dayak terhadap keluarga besar Matayo. Yakni terdaoat 4 korban yang kehilangan nyawa dan ada satu korban mengalami luka – luka.

Hal ini mengakibatkan kemarahan Suku Madura. Akhirnya tanpa adanya pemikiran yang matang terlebih dahulu mereka mencari dan mendatangi rumah yang diduga pelaku dan membakar belasan rumah milik suku dayak. Aksi ini kemudian menyulut kemarahan Suku Dayak yang menyebabkan mereka melakukan serangan balasan terhadap suku Dayak.

Ada versi yang menyatakan bahwa konflik ini diakibatnya adanya dendam Suku Madura akibat konflik yang terjadi sebelumnya yakni pada tahun lalu, 2016 bulan Desember. Akhirnya Suku Madura menguasai Kota Sampit selama beberapa hari. Hal ini lantas membuat suku Madura melarikan diri. Selang beberapa hari munculah aksi baasan dari Suku Dayak mereka melakukan ritual lama yakni Mandau.

Baca juga Dampak Konflik Sampit, Perang Antar Suku Dayak dan Madura

Bukan hanya yang terlibat konflik yang terbunuh namun tak pandang bulu bagai dikuasai nafsu suku dayak membunuh siapa saja yang merupakan Suku Madura. Baik tua, muda tak memandang siapapun mereka memenggal kepala orang – orang Madura ini. Mandau merupakan tradisi yang dilakukan orang Dayak pada zaman dahulu.

Yakni dengan memenggal kepala lawan yang digunakan sebagai pertanda sudah menjelang balik. Kemudian hati dari lawan tadi dimakan hal ini dilakukan agar nyawa lawan tidak menghantui. Aksi ini menimbulkan isu bahwa korban yang terpenggal kepalanya mencapai 700 orang. Korban pun diperkiran mencapai ribuan jiwa.

Belum ada kepastian yang menunjukan mana data yang benar. Yang penting adalah bagaimana penyelesaian dari konflik ini. Akhirnya ada kepala daerah lokal yang diduga memprovokasi kejadian ini ditangkap. Ada beberapa provokator lain yang dia ditangkap dan dipenjarakan.

Tak hanya itu pemerintah mengerahkan kekuatan militer guna mendamaikan perselisihan. Akhirnya konflik ini terselesaikan walaupun membutuhkan waktu yang lama. Akhirnya dibuatlah sebuah makam bersama untuk memakamkan korban dari perselisihan ini. Guna mengingatkan sejarah dan agar selalu damai pemerintah membuat sebuah monumen perdamaian yang diletakan di tengah – tengah kota.

Sudah sepatutnya kita belajar dari hal seperti ini karena pada dasarnya kita harus menghormati segala budaya yang ada di sebuah daerah, kita juga tidak boleh egois dengan mementingkan kepentingan pribadi yang membuat kita melupakan kepentingan orang banyak.

Semoga kejadian semcam ini tidak terjadi kembali. Karena bila terjadi maka akan menimbulkan hal yang tidak baik lagi. Bukan hanya sebuah rasa sakit namun jika hal ini terulang kembali maka nyawa menjadi taruhannya.

Baca juga Kesaksian Korban Sampit yang Selamat dari Tragedi

Demikian yang dapat Sawal Walker bagikan, tentang penyelesaian konflik Sampit, antar suku Dayak dan Madura. Sekian dan terima kasih telah mengunjungi sawalwalker.com, semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel tragedi Sampit berikutnya.

You May Also Like

Sawal Walker

About the Author: Sawal Walker

Ketika Allah memberikanmu nikmat secara finansial, jangan naikkan standar hidupmu, melainkan tingkatkan standarmu dalam berbagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *